Cari Blog Ini
Sabtu, 08 Mei 2010
Rabu, 05 Mei 2010
Mengubah Hukum Mati Dengan Cinta
Peradaban manusia mengenal dan melaksanakan hukuman mati. Hukuman ini biasanya diterima oleh orang-orang yang dianggap sebagai penjahat kelas berat atau insan-insan yang mendapat vonis pengadilan. Namun, sejarah membuktikan, meski hukuman mati terus dilaksanakan, kejahatan tidak pernah surut. Tak heran kalau kemudian banyak yang bertanya-tanya, "Jikan hukuman mati selama ini tidak sungguh-sungguh mengurangi angka kejahatan, jadi apa manfaatnya?"
Konon, alasan di balik hukuman mati adalah penjeraan atau balas dendam. sebuah alasan yang terbatas, bahkan ketika diletakkan pada praktik kejahatan yang pemicunya bermacam-macam (multifaktorial). Kejahatan bukan semata perilaku yang disebabkan oleh satu, dua, atau tiga faktor belaka. Ada sekian banyak faktor yang bisa berperan sebagai penyebabnya.
Maka kejahatan tidak pernah bisa disurutkan hanya dengan pelaksanaan hukuman mati. Kejahatan itu terlalu lebar untuk bisa dicakup atau diatasi hanya oleh penjeraan atau balas dendam. Bahkan akhir-akhir ini, di berbagai kawasan di dunia yang penuh konflik berdarah, seperti Timur Tengah, makna penjeraan mangalami perubahan dahsyat.
Fenomena bom bunuh diri, misalnya, mewakili perubahan dahsyat atas makna penjeraan itu. Berlandaskan alur pikir meeka yang ada di balik pelaksanaan hukuman mati, orang yang menjadi pelaku kejahatan berat perlu dimatikan, agar terjadi penyebaran efek penjeraan ke tengah masyarakat luas. Kemudian diharakan, di waktu-waktu mendatang orang-orang kapok, sehingga tidak lagi melakukan kejahatan seperti yang dilakukan orang yang telah dihukum mati.
Namun, pada kasus bom bunuh diri, orang justru mematikan diri demi menjera orang-orang lain atau balas dendam. Lewat bom bunuh diri, ia berseru lantang betapa dirinya tidak takut mati dan tidak jera dengan pematian dirinya. Dapat dirasakan betapa peledakan bom bunuh diri adalah ejekan buat pelaksanaan hukuman mati. Dengan kata lain, peledakan bom bunuh diri kian menisbikan fungsi nhukuman mati sebagai alat penjera atau balas dendam.
Di tengah kawasan konflik, kini juga terjadi vulgarisasi hukuman mati. Hukuman mati tidak dilaksanakan "secara beradab", dalam arti sesuai prosedur yang ditetapkan hukum, tetapi justru dipertontonkan lewat media massa elektronik dan media massa cetak ke seluruh penjuru dunia. Bahkan pelaksanaan hukuman mati yang amat vulgar itu didahului dengan penyiksaan psikologis luar biasa tgerhadap insan yang akan dihukum mati. Bukan main!
Penduduk Bumi ini harusnya menyadari, menciptakan masyarakat yang lebih beradab tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan penjeraan dan balas dendam. Peradaban terlalu besar untuk bisa dibesarkan dengan penjeraan dan bals dendam. Yang sungguh diperlukan untuk merawat dan menumbuh kembangkan peradaban adalah keyakinan pada nilai-nilai kemanusiaan luhur universal, pengharapan akan hidup \yang lebih baik, serta cinta yang ditebar dalam kehidupan sehari-hari.
Bahaya Getol Mengasul Soft Drink
Aneh tapi nyata, tapi begitulah faktanya. saat orang Amerika mulai sadar pada dampak buruk mengkonsumsi sukrosa, kita di sini malah bangga meniru pola makan mereka. Bakhan, lebih getol mengasup sof drink, permen, biskuit yang sudah dilapisi sukrosa, sampai gula dan sirup dari jagung yang kerap dipromosikan sebagai rendah kalori (padahal tidak begitu).
Banyak orang masih belum mengerti bahwa gula (gula dari tebu, sukrosa) mengandung glukosa dan fruktosa dengan perbandingan yang sama besar. Dalam kondisi "normal" (tidak berlebihan), glukosa dibakar melalui jalur "biasa" menjadi tenaga. sedangkan sisa pembakaran glukosa diubah menjadi asam lemak. pembakaran fruktosa pun harus melalui jalur pembakaran glukosa ini. Setelah sukrosa dicerna di usus, glukosa dan fruktosa masuk ke pembuluh darah dan hati.
Itu normalnya. Bagaimana jika sukrosa yang dikonsumsi begitu banyak, sehingga timbul gelombang atau "banjir" glukosa dan fruktosa? Dampaknya, fruktosa tidak dapat masuk jalur pembakaran glukjosa, sehingga terpaksa menempuh jalan pintas, diubah menjadi gliserol-3-fosfat. Begitu juga dengan glukosa, jika banjirnya kelewatan, diubah pula menjadi gliserol-3-fosfat.
Padahal, gliserol-3-fosfat ini dapat mengikat tiga asam lemak dan membentuk trigliserida. Trigliserida ada yang bebas beredar dalam darah, ada pula yang di simpan dalam jaringan lemak. Kabar buruknya, peningkatan kadar trigliserida dapat memicu penyakit jantung dan pembuluh darah (cardiovasculer), jika terjadi penurunan kadar HDL (kolesterol baik) disertai peningkatan kadar LDL (kolesterol jahat) dalam darah.
Begitu berbahayanya trigliserida ini. kelebihan 800 mg/dl saja sudah dapat menyebabkan terjadinya penyakit pankreatitis akut atau radang kelenjar pankres. Itu pasalnya, penting menjaga kadar trigliserida tetap normal, di bawah 80mg/dl. Di hati, trigliserida bersama kolesterol dan beberapa jenis protein (apoprotein) kongkalikong membentuk lipoprotein jenis VLDL (very low density lipoprotein).
VLDL bertugas mengangkut trigliserida ke jaringan tubuh untuk dimetabilosme menjadi tenaga (misalnya di otot) atau disimpan di jaringan lemak.Setelah keluar dari hati dan masuk ke pembuluh darah, sebagian trigliserida dikeluarkan dari VLDL oleh enzim lipoprotein lipase.
Trigliserida yang dikeluarkan dari VLDL itu kemudian terurai menjadi gliserol-3-fosfat atau asam lemak. Asam lemaknya sebagian dipakai untuk pembakaran yang menghasilkan tenaga, sebagian disimpan lagi dalam jaringan lemak sebagai trigliserida lagi. Begitu terus, sampai akhirnya jumlah trigliserida makin lama makin banyak dan menimbulkan rantai penyakit.
Dahulu, di AS, meningkatnya kasus kardivaskuler, obesitas, dan diabetes menimbulkan kekhawatiran, sekaligus gagasan untuk mengganti konsumsi lemak hewan dengan karbohidrat sebagai sumber energi. American Diabetes Association bahkan merekomendasikan energi dari lemak tidak boleh lebih dari 30%. Karbohidrat pun menggantikan posisi lemak sebagai sumber energi utama.
Namun, sumber energi pengganti lemak hewan pun tak sepenuhnya aman. Karena belakangan terbukti, sukrosa terutamafruktosa, ternyata meningkatkan kadar trigliserida dan menurunkan kadar kolesterol baik darah, sehingga melambungkan jumlah pasien kardiovaskuler. Tak heran kalau The American Heart Association akhirnya menganjurkan pembatasan pemakaian sukrosa dan mengantikannya dengan tepung.
Seperti kata orang bijak, jika hendak meniru, tirulah yang baik.
Senin, 03 Mei 2010
Merengkuh Kebahagiaan Sejati
Rasanya, makin lama dunia ini makin tak bisa lepas dari bisnis, citra, dan penampilan. ketiga hal itu seperti telah meresap di segala bidang kehidupan. segala sesuatu telah ditumpangi kepentingan bisnis, sehingga memerlukan media untuk memperkenalkan dan mengumumkan diri di hadapan khalayak, yang tidak lain adalah hamparan calon konsumen.
Memperkenalkan diri dan mengumunkan diri itu tentu meniscayakan citra nan hebat dan penampilan menarik dua syarat untuk mendapatkan penerimaan publik. bisnis, citra, dan penampilan daldam rajutan jejaring media memang telah membuat dunia kita menjadi semakin ramai, semdrak, dan hiruk-pikuk
Jangan harap dunia akan redup atau sepi. Kekuatan bisnis, upaya pencitraan, dan jualan penampilan telah menjadikan dunia makin ramai. Di tengah keramaian dan gemuruh itu, telinga dan jiwa kita menjadi makin pekak, mata kita pun makin bosan, kendati nafsu makin hingar-bingar dan membubung.
Seluruh keramaian itu selain mengendalikan jiwa dan memberikan kepuasan sejenak, juga menimbulkan kejenuhan dan rasa capek. Jadi, apa sebenarnya yang kita cari dalam hidup ini? Sungguhkah kehingar-bingaran itu yang kita cari? Sebab, diam-diam, dunia yang riuh-rendah itu justru menyemaikan kekosonggan jiwa, kehampaan, dan ketiadaan makna.
Banyak orang bilang, bangsa ini akan bahagia jika ekonomi terus membaik dan kemakmuran bendawi kian tinggi. banyak orang berkata, ketersediaan pekerjaan merupakan jaminan kebahagiaan seluruh warga bangsa. Memang benar. namun, kemakmuran bendawi dan pekerjaan hanyalah sasaran antara. Keduanya bukan nilai-nilai akhir yang menjamin kebahagiaan.
Keduanya memang penting. kemiskinan dan pengangguran adalah penyakit sosial yang membuat masyarakat menjadi menderita. Bahkan keduanya adalah penyakit-penyakit sosial yang berbahaya, bisa merusak masyarakat, bisa menguncang masyarakat, memporak porandakan bangsa dan negara.
Orang yang miskin dan lapar bisa berbuat apa saja untuk memenuhi kebutuhan dasarnya yang tidak terpenuhi. Ketika orang yang miskin dan lapar itu jumlahnya banyak, lantas karena satu dan lain hal mereka marah, akumulasi kemarahan orang banyak itu bisa menjadi kekuatan perusak luar biasa.
Sekian lagi, semua itu benar. Namun, sungguhkah kemakmuran bendawi dan pekerjaan bisa secara paripurna membahagiakan manusia? Ternyata tidak. Orang-orang di negeri yang amat makmur pun tidak mendapat jaminan meraih kebahagiaan sejati. Lalu, apa yang niscaya direngkuh manusia untuk meraih kebahagiaan sejati?
Ada lima hal yang perlu direngkuh manusia untuk meraih kebahagiaan sejati. Yakni kebebasan, kebijaksaan, keadilan, ketentraman, dan kedamaian. Hidup kita merupakan upaya tak pernah henti untuk merengkuh dan mewujudkan lima hal tersebut. kita boleh sibuk dengan bisnis, pencitraan, dan penampilan. Namun, kita pun perlu menyadari, ketiga hal itu tidak menjamin pencapaian kebahagiaan sejati.
Kebebasan, kebijaksanaan, keadilan, dan kedamaian merupakan nilai-nilai yang lebih tinggi daripada keriuh-rendahan bisnis, pencitraan, dan penampilan. Jadi, mestinyda kita lebih mengutamakan kelima hal itu, bukan kepentingan bisnis serta hiruk-pikuk pencitraan dan penampilan, yang acap kali tampak sombong, angkuh, dan mau menang sendiri.
Belajar Mendengar

Mana yang paling mudah dilakukan; bicara atau mendengar? Bagi sebagian orang, dua hal itu mampu mereka lakukan sama baiknya. Sementara sebagian yang lain tidak. Yang satu mengaku, lebih senang berbicara ketimbang mendengar. Baginya ngomong berjam-jam itu gampang, tapi mendengarkan itu melelahkan dan menyiksa diri. Yang lain lebih suka mendengarkan, meski harus memiliki kesabaran tinggi. maklum, ia selalu takut keliru bicara atau khawatir omongannya disalahartikan.
Sejarah peradaban memberi kita banyak guru untuk belajar dan mengartikan apa itu mendengar. Leslie H. Farber, psikolog terkenal dari AS yang bukunya menjadi kajian dunia ilmu psikologi terapan selama puluhan tahun, The Way of The Will, punya pandangan menarik. Bagi Farber, mendengar itu tidak hanya berani mengunci mulut, lantaran menyimak obyek yang didengarkan. Mendengar menuntut sesuatu yang lebih. Yakni kemampuan untuk mengikuti secara imaginatif sekaligus mengenal adanya "bahasa" lain. Sesungguhnya dalam aktivitas mendengar itu kita bicara dalam kata-kata yang lain. Bagaimana kita bisa mengartikan, "makan" tapi bvkan karena "lapar", "going to bed" tapi bukan "sleeping", "membaca" tapi tidak untuk "memahami", "religius" tapi bukan "agama".
Guru lain yakni J. Krishnamurti mengatakan hal yang tidak jauh berbeda. Apabila kita memperhatikan omongan seseorang dengan seksama, maka kita tidak hanya mendengar kata dan kalimat yang terucap melainkan juga perasaan dan pesan yang dibawa lewat kalimat-kalimat tersebut.
Selain itu kita pun layak belajar pada mantan aktor populer, Christoher Reeve. Aktor "Superman" meski menderita lumpuh akibat kecelakaan jatuh dari kuda, sampai akhir hayatnya Reeve tetap berjuang agar hidupnya tetap punya arti buat masyarakat. Coba dengar apa pesannya dalam menjalani hidup, "Kita semua memiliki suara hati yang akan berbicara bila diberi kesempatan. Terkadang suara itu mudah didengar, meski tak jarang harus mengecilkan volume suara-suara di sekitar yang mengganggu. Suara itu akan memberitahu apakah hidup kita sudah di jalur yang benar. Mengingatkan apakah selama ini kita sudah 'memberi' sama banyaknya dengan jumlah yang kita 'ambil'. Apakah selama ini kita mau mendengarkan orang lain, menerima perbedaan pendapat bahkan ketika pendapat itu tidak bisa kita jalani." Terserah kepada siapa kita akan berguru. Toh, tak ada guru yang akan mencelakakan murid.
Minggu, 02 Mei 2010
Sang Idola

Menurut Joseph Conrad, sastrawan Polandia kelahiran Berdichev, Ukraina, "kita hidup di dalam kekuasaan dunia yg penuh kedengkian. Suara desingan udara pun terkadang membuat hati luka." Barangkali Conrad benar, tapi tidak sepenuhnya.
Kini demam sepakbola melanda dunia, negara, kota, dan desa. Banyak bocah sampai orang dewasa mengidentifikasi dirinya dengan bintang-bintang idolanya. Demam itu menjadi "penyakit" seperti terjadi sìang itu. Dua pemuda yakni Adi, berkaos D. Beckham, dan Seno, memakai kaos bertuliskan Ronaldo, berantem seru. Penyebabnya sepele, Adi menjelekkan idola Seno. Untung, segera dilerai orangtua.
Hari berikutnya, keduanya dikasih selembar kertas. "Tuliskan nama orang yang paling berpengaruh dalam hidup kalian masing-masing. Jelaskan bagaimana orang tersebut mampu membentuk kepribadian kalian."
Adi menyebut omnya sebagai orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Baginya, om Tono orang paling baik sedunia. Sang paman membantunya dalam memperoleh SIM, memberi motor bekas sekaligus mengajari cara memakai dan merawatnya. sementara Seno menyebut neneknyalah orang yang paling banyak mempengaruhi hidupnya. Dari enyang Sri ia bisa belajar bahasa Inggris, mampu menabung, dan menghargai waktu.
Ternyata yang memiliki pengaruh positif pada anak-anak ini adalah mereka yang baik hati, dermawan, mencurahkan waktu untuk kemandirian mereka. Ketika ditanyakan, apa yang diberikan oleh para bintang idola kepada mereka? "Tidak ada." jawab mereka.
Pertanyaan penting berikutnya adalah, mengapa para selebriti lapangan rumput yang notabene tidak mereka kenal itu mampu mempengaruhi kelakuan anak-anak ini? Bukankah nilai-nilai hidup yang baik telah dibentuk oleh orang-orang yang mereka cintai. Mengapa pengaruh positif itu bisa rusak oleh pengaruh dari luar yang jauh? Kita wajib bercermin pada tingkah anak-anak. Disanalah wajah kita tampak.
Sabtu, 01 Mei 2010
lingkungan ekstraseluler part 2
I. PENDAHULUAN
Air adalah kebutuhan dasar dari semua bentuk kehidupan. 80% dari sel tersesun atas air dengan beberapa fungsi yang diembannya. Fungsi air Aadalah memelihara lingkungan dimana nutrien dan intermediet metabolik terlarut, selain itu air juga berpartisipasi langsung dalam pelaku reaksi-reaksi hidrolisis, serta donor elektron dalam reaksi oksidasi reduksi .
Organisme uniseluler harus memperoleh air dalam jumlah yang cukup untuk menyelenggarakan berbagai reaksi metabolik. Kekeurangan air menyebabkan aktivitas metabolisme dalam sel tubuh tertekan. Keadaan tersebut akan berpengaruh langsung terhadap aktivitas organisme secara keseluruhan termasuk aktivitas pertumbuhan dan reproduksi .
II. RUMUSAN MASALAH
1. Dengan cara apa organisme dapat survival di lingkungan akuatik?
2. Apa saja yang berperan dalam mekanisme kimiawi sel pada saat temperatur tinggi?
III. PEMBAHASAN
1. Dengan cara apa organisme dapat survival di lingkungan akuatik?
Lingkungan akuatik adalah tempat hidup organisme yang berupa air, baik air laut, air tawar maupun air payau. Sebagaian besar permukaan bumi (lebih dari 70%) tertutup oleh air. Sebagian terbesar dari perairan tersebut berupa lautan atau marin. Air tawar yang terdapat di danau dan sungai anya merupakan bagian kecil saja. Yaitu 1% dari luas seluruh permukaan air dan hanya 0.01 dari volume seluruh air laut .
Air tawar
Bila sel dimasukkan ke dalam air murni atau air tanpa garam, maka air harus dihalangi masuknya ke dalam sel. Bila tidak akan bermasalah dengan tekanan osmotic. Kebanyakan sel memiliki lingkungan ionik internal tertentu.
Ada dua cara yang dapat ditempuh oleh organisme uniseluler agar dapat survive di air tawar.
Membuat dinding sel
Dengan cara ini organisme uniseluler dapat mengatasi masalah tekanan osmotic di dalam selnya . bakteri dan cyanobacteria memiliki dinding sel yang dapat mempertahan kan tekanan osmotic didalam selnya hingga tetap berada pada tekanan 20-30atm yang membuat dirinya tetap survive.
Sistem pompa air.
Organisme seluler di air tawar secara konstan mengambil air melalui osmosis karena osmolaritas cairan internalnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan osmolaritas sekelilingnya . sistem pompa iar ini digunakan agar sel terhindar dari lisis dengan cara mengembalikan air secara terus menerus dari kelebihan air yang diserapnya.
Air laut
Pada dasarnya ada dua lingkungan yang mengandung garam
Air laut
Suatu lingkungan yang mengandung kadar garam tinggi yang ada di sekitar sel.
Cairan tubuh
Cairan tubuh menyusun lingkungan ekstraseluler yang terus menerus dapat di monitoring atau dipelihara oleh sel dengan menjaga komposisinya agar cocok untuk hidup.
Ketersediaan air berkaitan erat dengan kandungan garam (salinitas) yang terdapat dalam suatu lingkungan salinitas tinggi seperti yang ditemukan pada lingkungan laut menyebabkan penurunan ketersediaan air bagi organisme seluler dalam lingkungan tersebut. Organisme seluler harus mengeluarkan energi lebih banyak untuk memperoleh air dari lingkungan. Diantara garam yang terlarut dalam air. Kemungkinan terkandung berbagai ion yang bersifat toksik oleh karena itu peningkatan salinitas juga dapat meningkatkan kandungan zat toksik dalam suatu perairan sebagian hewan bergantung pada lingkungan yang memiliki konsentrasi ion tinggi.
Ada beberapa organisme yang dapat ditolelir terhadap salinitas hingga 30% yang di jumpai di danau garam dan air asin diantaranya adalah bakteri, protozoa, crustacea, dan lain-lain. Organisme-organisme tersebut umumnya memiliki kadar garam yang lebih tinggi dari normal tetapi tidak lebih tinggi dari kandungan garam di lingkungannya. Organisme-organisme itu dapat survive pada lingkungan garam karena memiliki enzim yang toleran terhadap kadar garam tinggi .
Tekanan hidrostatik
Peningkatan kedalaman air berkaitan dengan peningkatan tekanan air. Setiap peningkatan ke dalaman air sebesar 10 meter akan diikuti dengan peningkatan tekanan air sebesar 1 atm. Tekanan yang di timbulkan oleh air tersebut dinamakan tekanan hidrostatik.
Tekanan hidrostatik yang tinggi selain menghambat aktivitas enzim dan mempengaruhi struktur membran sel, juga mempengaruhi peralihan fase sitoplasma (sol-gel). Bentuk dan pergerakan sel, serta aktivitas reproduksi sel.
Pada tingkat molekuler. Peralihan fase sol-golongan merupakan perwujudan dari adanya perubahan bentuk protein monomer ke bentuk polimer.
Pada tekanan tinggi pembentukan ikatan hidrogen meningkat, sedangkan interaksi ionik dan hidrofobik terhambat. Hal tersebut mengakibatkan adanya penghambat pada proses pembentukan mikrotubulus akibat menghambat pertumbuhan mikrotubulus.
Peningkatan tekanan hidrostatik hingga batas tertentu dapat diadaptasi oleh organisme tingkat barotoleran, ialah organisme yang mampu hidup, berkembang, dan bereproduksi pada tekanan hidrostatik relatif tinggi. Suatu jenis organisme dapat memiliki susunan membran dengan ikatan khusus yang mampu bertahan terhadap pengaruh tekanan hidrostatik tinggi.
Dapat disimpulkan bahwa tekanan hidrostatik tinggi dapat menjadi faktor pembatas bagi penyebaran organisme di kedalaman air .
2. Apa saja yang berperan dalam mekanisme kimiawi sel pada saat temperatur tinggi?
Mengingat komponen utama dari sel adalah air, maka sifat-sifatnya juga tidak jauh berbeda dari sifat-sifat air, baik sifat-sifat fisika maupun kimia.
o Batas atas temperatur.
Batas atas temperatur yang dapat di tolelir oleh organisme agar cocok untuk hidup berbeda-beda. Umumnya organisme eukariotik lebih peka terhadap panas tinggi dari pada organisme prokariotik. Habitat hidupnya berkisaran antara 93.5-95.5 OC sedangkan eukariotik lebih rendah.
Kapasitas panas dapat di definisikan sebagai banyaknya panas yang diperlukan untuk menaikan suhu. 1grm air setinggi 1oC. hal tersebut berarti bahwa untuk menaikkan suhu air setinggi 1oC diperlukan panas atau kalor dari lingkungan dalam jumlah relatif besar. Sebaliknya jika suhu air turun sebesar 1oC panas atau kalor dalam jumlah relatif besar akan di lepaskan ke lingkungannya. Kapasitas panas yang relatif tinggi tersebut ,menyebabkan air sulit mengalami perubahan suhu.
o Enzim termostabil.
Bahwa organisme yang hidup pada temperatur tinggi memiliki enzim ynag dapat bekerja pada temperatur tinggi enzim tersebut disebut dengan enzim termostabil.
o Membran termostabil.
Membran yang terdapat pada suatu organisme seluler yang bila dipanaskan atau terdapat di suatu lingkungan yang suhunya ekstrim atau mencapai pada suatu titik di dalam (60oC) dan tidak mengalami lisis.
Membran termostabil ini berbeda dengan membran-membran pada umumnya. Biasanya membran tersesun atas molekul protein dan lemak yang bersifat tidak statis. Beda dengan membran termostabil walau sama-sama penyusun membran adalah lemak dan protein tetapi pada organisme yang memiliki membran termostabil akan memproduksi lemak yang memiliki titik cair yang lebih tinggi. Lemak yang dimaksud adalah lemak penyusun membran plasma termostabil. Lemak penyusun membran plasma ini memiliki struktur tetraeter dengan dua unit gliserol yang berikatan dengan dua unit isoprenoid. Yang merupakan senyawa dengan ikatan jenuh.
Gliserol tetraeter memiliki tiga keistemewaan yang dapat menyebabkan membran plasma tetap stabil.
1) Tanpa ikatan ester.
2) Adanya jembatan jenuh rantai panjang (unit isoprenoid) yang mencair pada suhu tinggi.
3) Mempunyai dimensi yang memungkinkan membran plasma dapat merentang sempurna.
o Asam inti termostabil.
Sintesis protein pada suhu tinggi selain membutuhkan enzim termostabil juga membutuhkan asam inti yang termostabil berupa mRNA, tRNA, rRNA termostabil. Ini dilakukan untuk menilai termostabilitas asam ini dengan cara melihat urutan nukleotid, tRNA dari organisme termifilik dibanding dengan organisme mesofilik.
Terdapat tiga perbedaan yang tidak dijumpai pada organisme mesofilik.
1. Kandungan pasangan basa nitrogen guanin- sitosin (G-C) lebih banyak.
2. Adanya Mg 2+ ion yang melindungi denaturasi akibat panas.
3. Terjadi tiolasi dari ribotimidin menjadi 5-metil-2-tiouridin.
Perubahan kimiawi tersebut akan berakibat terhadap perubahan fisik dari tRNA yang sifatnya menjadi lebih stabil .
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan penjabaran diatas dapat diketahui bahwa suatu organisme akuatik dapat survive dangan beberapa cara
o Air tawar
Membentuk dinding sel
Sistem pompa air
o Air laut
Dengan tekanan osmotic.
o Tekanan hidrostatik
Berpengaruh terhadap inaktivasi enzim
Menekan laju reaksi fisiologik.
Menekan pertumbuhan dan reproduksi.
Ada beberapa hal yang berperan dalam mekanisme kimiawi suatu organisme
o Batas temperatur
o Enzim termostabil.
o Membran termostabil.
o Asam inti termostabil
V. PENUTUP
Demikianlah makalah dari kami, bila ada kritik dan saran yang bersifat membangun akan diterima dengan senang hati serta ucapan terima kasih. Semoga presentasi kami memberikan sebuah pemahaman tentang topik lingkungan ekstra seluler. Wassalam
DAFTAR PUSTAKA
Winarni, susi, M. Pd. Bahan ajar biologi sel. Semarang. 2010
Isnaeni, wiwi. Fisiologi hewan. Kanisius. Yogyakarta. 2006
Mitchell-reece, Campbell. Biologi jilid 3. erlangga. Jakarta. 2006
Air adalah kebutuhan dasar dari semua bentuk kehidupan. 80% dari sel tersesun atas air dengan beberapa fungsi yang diembannya. Fungsi air Aadalah memelihara lingkungan dimana nutrien dan intermediet metabolik terlarut, selain itu air juga berpartisipasi langsung dalam pelaku reaksi-reaksi hidrolisis, serta donor elektron dalam reaksi oksidasi reduksi .
Organisme uniseluler harus memperoleh air dalam jumlah yang cukup untuk menyelenggarakan berbagai reaksi metabolik. Kekeurangan air menyebabkan aktivitas metabolisme dalam sel tubuh tertekan. Keadaan tersebut akan berpengaruh langsung terhadap aktivitas organisme secara keseluruhan termasuk aktivitas pertumbuhan dan reproduksi .
II. RUMUSAN MASALAH
1. Dengan cara apa organisme dapat survival di lingkungan akuatik?
2. Apa saja yang berperan dalam mekanisme kimiawi sel pada saat temperatur tinggi?
III. PEMBAHASAN
1. Dengan cara apa organisme dapat survival di lingkungan akuatik?
Lingkungan akuatik adalah tempat hidup organisme yang berupa air, baik air laut, air tawar maupun air payau. Sebagaian besar permukaan bumi (lebih dari 70%) tertutup oleh air. Sebagian terbesar dari perairan tersebut berupa lautan atau marin. Air tawar yang terdapat di danau dan sungai anya merupakan bagian kecil saja. Yaitu 1% dari luas seluruh permukaan air dan hanya 0.01 dari volume seluruh air laut .
Air tawar
Bila sel dimasukkan ke dalam air murni atau air tanpa garam, maka air harus dihalangi masuknya ke dalam sel. Bila tidak akan bermasalah dengan tekanan osmotic. Kebanyakan sel memiliki lingkungan ionik internal tertentu.
Ada dua cara yang dapat ditempuh oleh organisme uniseluler agar dapat survive di air tawar.
Membuat dinding sel
Dengan cara ini organisme uniseluler dapat mengatasi masalah tekanan osmotic di dalam selnya . bakteri dan cyanobacteria memiliki dinding sel yang dapat mempertahan kan tekanan osmotic didalam selnya hingga tetap berada pada tekanan 20-30atm yang membuat dirinya tetap survive.
Sistem pompa air.
Organisme seluler di air tawar secara konstan mengambil air melalui osmosis karena osmolaritas cairan internalnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan osmolaritas sekelilingnya . sistem pompa iar ini digunakan agar sel terhindar dari lisis dengan cara mengembalikan air secara terus menerus dari kelebihan air yang diserapnya.
Air laut
Pada dasarnya ada dua lingkungan yang mengandung garam
Air laut
Suatu lingkungan yang mengandung kadar garam tinggi yang ada di sekitar sel.
Cairan tubuh
Cairan tubuh menyusun lingkungan ekstraseluler yang terus menerus dapat di monitoring atau dipelihara oleh sel dengan menjaga komposisinya agar cocok untuk hidup.
Ketersediaan air berkaitan erat dengan kandungan garam (salinitas) yang terdapat dalam suatu lingkungan salinitas tinggi seperti yang ditemukan pada lingkungan laut menyebabkan penurunan ketersediaan air bagi organisme seluler dalam lingkungan tersebut. Organisme seluler harus mengeluarkan energi lebih banyak untuk memperoleh air dari lingkungan. Diantara garam yang terlarut dalam air. Kemungkinan terkandung berbagai ion yang bersifat toksik oleh karena itu peningkatan salinitas juga dapat meningkatkan kandungan zat toksik dalam suatu perairan sebagian hewan bergantung pada lingkungan yang memiliki konsentrasi ion tinggi.
Ada beberapa organisme yang dapat ditolelir terhadap salinitas hingga 30% yang di jumpai di danau garam dan air asin diantaranya adalah bakteri, protozoa, crustacea, dan lain-lain. Organisme-organisme tersebut umumnya memiliki kadar garam yang lebih tinggi dari normal tetapi tidak lebih tinggi dari kandungan garam di lingkungannya. Organisme-organisme itu dapat survive pada lingkungan garam karena memiliki enzim yang toleran terhadap kadar garam tinggi .
Tekanan hidrostatik
Peningkatan kedalaman air berkaitan dengan peningkatan tekanan air. Setiap peningkatan ke dalaman air sebesar 10 meter akan diikuti dengan peningkatan tekanan air sebesar 1 atm. Tekanan yang di timbulkan oleh air tersebut dinamakan tekanan hidrostatik.
Tekanan hidrostatik yang tinggi selain menghambat aktivitas enzim dan mempengaruhi struktur membran sel, juga mempengaruhi peralihan fase sitoplasma (sol-gel). Bentuk dan pergerakan sel, serta aktivitas reproduksi sel.
Pada tingkat molekuler. Peralihan fase sol-golongan merupakan perwujudan dari adanya perubahan bentuk protein monomer ke bentuk polimer.
Pada tekanan tinggi pembentukan ikatan hidrogen meningkat, sedangkan interaksi ionik dan hidrofobik terhambat. Hal tersebut mengakibatkan adanya penghambat pada proses pembentukan mikrotubulus akibat menghambat pertumbuhan mikrotubulus.
Peningkatan tekanan hidrostatik hingga batas tertentu dapat diadaptasi oleh organisme tingkat barotoleran, ialah organisme yang mampu hidup, berkembang, dan bereproduksi pada tekanan hidrostatik relatif tinggi. Suatu jenis organisme dapat memiliki susunan membran dengan ikatan khusus yang mampu bertahan terhadap pengaruh tekanan hidrostatik tinggi.
Dapat disimpulkan bahwa tekanan hidrostatik tinggi dapat menjadi faktor pembatas bagi penyebaran organisme di kedalaman air .
2. Apa saja yang berperan dalam mekanisme kimiawi sel pada saat temperatur tinggi?
Mengingat komponen utama dari sel adalah air, maka sifat-sifatnya juga tidak jauh berbeda dari sifat-sifat air, baik sifat-sifat fisika maupun kimia.
o Batas atas temperatur.
Batas atas temperatur yang dapat di tolelir oleh organisme agar cocok untuk hidup berbeda-beda. Umumnya organisme eukariotik lebih peka terhadap panas tinggi dari pada organisme prokariotik. Habitat hidupnya berkisaran antara 93.5-95.5 OC sedangkan eukariotik lebih rendah.
Kapasitas panas dapat di definisikan sebagai banyaknya panas yang diperlukan untuk menaikan suhu. 1grm air setinggi 1oC. hal tersebut berarti bahwa untuk menaikkan suhu air setinggi 1oC diperlukan panas atau kalor dari lingkungan dalam jumlah relatif besar. Sebaliknya jika suhu air turun sebesar 1oC panas atau kalor dalam jumlah relatif besar akan di lepaskan ke lingkungannya. Kapasitas panas yang relatif tinggi tersebut ,menyebabkan air sulit mengalami perubahan suhu.
o Enzim termostabil.
Bahwa organisme yang hidup pada temperatur tinggi memiliki enzim ynag dapat bekerja pada temperatur tinggi enzim tersebut disebut dengan enzim termostabil.
o Membran termostabil.
Membran yang terdapat pada suatu organisme seluler yang bila dipanaskan atau terdapat di suatu lingkungan yang suhunya ekstrim atau mencapai pada suatu titik di dalam (60oC) dan tidak mengalami lisis.
Membran termostabil ini berbeda dengan membran-membran pada umumnya. Biasanya membran tersesun atas molekul protein dan lemak yang bersifat tidak statis. Beda dengan membran termostabil walau sama-sama penyusun membran adalah lemak dan protein tetapi pada organisme yang memiliki membran termostabil akan memproduksi lemak yang memiliki titik cair yang lebih tinggi. Lemak yang dimaksud adalah lemak penyusun membran plasma termostabil. Lemak penyusun membran plasma ini memiliki struktur tetraeter dengan dua unit gliserol yang berikatan dengan dua unit isoprenoid. Yang merupakan senyawa dengan ikatan jenuh.
Gliserol tetraeter memiliki tiga keistemewaan yang dapat menyebabkan membran plasma tetap stabil.
1) Tanpa ikatan ester.
2) Adanya jembatan jenuh rantai panjang (unit isoprenoid) yang mencair pada suhu tinggi.
3) Mempunyai dimensi yang memungkinkan membran plasma dapat merentang sempurna.
o Asam inti termostabil.
Sintesis protein pada suhu tinggi selain membutuhkan enzim termostabil juga membutuhkan asam inti yang termostabil berupa mRNA, tRNA, rRNA termostabil. Ini dilakukan untuk menilai termostabilitas asam ini dengan cara melihat urutan nukleotid, tRNA dari organisme termifilik dibanding dengan organisme mesofilik.
Terdapat tiga perbedaan yang tidak dijumpai pada organisme mesofilik.
1. Kandungan pasangan basa nitrogen guanin- sitosin (G-C) lebih banyak.
2. Adanya Mg 2+ ion yang melindungi denaturasi akibat panas.
3. Terjadi tiolasi dari ribotimidin menjadi 5-metil-2-tiouridin.
Perubahan kimiawi tersebut akan berakibat terhadap perubahan fisik dari tRNA yang sifatnya menjadi lebih stabil .
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan penjabaran diatas dapat diketahui bahwa suatu organisme akuatik dapat survive dangan beberapa cara
o Air tawar
Membentuk dinding sel
Sistem pompa air
o Air laut
Dengan tekanan osmotic.
o Tekanan hidrostatik
Berpengaruh terhadap inaktivasi enzim
Menekan laju reaksi fisiologik.
Menekan pertumbuhan dan reproduksi.
Ada beberapa hal yang berperan dalam mekanisme kimiawi suatu organisme
o Batas temperatur
o Enzim termostabil.
o Membran termostabil.
o Asam inti termostabil
V. PENUTUP
Demikianlah makalah dari kami, bila ada kritik dan saran yang bersifat membangun akan diterima dengan senang hati serta ucapan terima kasih. Semoga presentasi kami memberikan sebuah pemahaman tentang topik lingkungan ekstra seluler. Wassalam
DAFTAR PUSTAKA
Winarni, susi, M. Pd. Bahan ajar biologi sel. Semarang. 2010
Isnaeni, wiwi. Fisiologi hewan. Kanisius. Yogyakarta. 2006
Mitchell-reece, Campbell. Biologi jilid 3. erlangga. Jakarta. 2006
Kamis, 08 April 2010
Rabu, 07 April 2010
pemilihan dan sterilisasi eksplan
PEMILIHAN DAN STERILISASI EKSPLAN
A. PENDAHULUAN
Kultur jaringan (tissue culture)merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ serta menumbuhkannya dalam keadaan aseptik sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali.
Sebelum melakukan kulur jaringan untuk suatu tanaman kegiatan yang pertama harus dilakukan adalah memilih bahan induk yang akan diperbanyak. Tanaman tersebut harus jelas jenis, spesies, dan varietasnya serta harus sehat, bebas dari hama dan penyakit. Tanaman indukan sumber eksplan tersebut kemudian dikondisikan dan dipersiapkan secara khusus agar eksplan yang akan dikulturkan sehat dan dapat tumbuh baik serta bebas dari sumber kontaminan pada waktu dikulturkan secara invitro.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana cara memilih eksplan?
2. Macam macam dan cara sterilisasi eksplan!
C. PEMBAHASAN
1. CARA MEMILIH EKSPLAN
Bahan tanaman yang dikulturkan lazim disebut sebagai eksplan. Dalam perbanyakan tanaman secara kultur jaringan, eksplan merupakan faktor terpenting penentu keberhasilan. Karena dengan memilih tanaman yang tepat dan jaringan-jaringan yang tepat maka kultur jaringan akan mempercepat tumbuhnya tunas-tunas dan individu baru yang identik dengan induknya.
Eksplan yang akan ditanam selain bertujuan memperbanyak massa tanaman, yang biasanya lambat, dengan metode konvensional. Dalam jumlah yang besar dalam waktu yang singkat, selain itu diperoleh tanaman yang bebas virus. Dalam perbanyakan tanaman secara kultur jaringan, ada beberapa faktor penting penentu keberhasilan. Yaitu Umur fisiologis (umur tanaman yang akan digunakan), umur ontogenetic, ukuran eksplan, serta bagian tanaman yang diambil merupakan hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih eksplan yang akan digunakan sebagai awal bahan kultur.
1. Umur tanaman yang digunakan (umur fisiologis).
Umumnya, bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Jaringan tanaman yang masih muda mempunyai daya regenerasi lebih tinggi, sel-selnya masih aktif membelah diri, dan relative lebih bersih (mengandung lebih sedikit kontamin). Sementara itu jaringan tanaman yang sudah tua lebih sulit beregenerasi, dan biasanya mengandung lebih banyak kontamin.
2. Bagian tanaman yang digunakan.
Bagian-bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai eksplan yaitu biji atau bagian-bagian biji seperti aksis embrio atau kotiledon, tunas puncuk, potongan batang suatu buku, potongan akar, potongan daun, potongan umbi batang, umbi akar, empulur batang, bagian bunga. Contoh pada tanaman jat yang diambil adalah trubusan tunas yang baru tumbuh, sedangkan pada pisang adalah bagian bonggol.
3. Umur ontogenik
Merupakan umur ontogenik tanaman induk sumber eksplan. Umur ontogenik adalah masa transisi dari vase pertumbuhan juvenile menuju vase dewasa. Fase juvenil adalah periode pembungaan tiak terjadi dan tidak dapat berlangsung dengan perlakuan yang biasa diambil dari digunakan untuk merangsang pembungaan. Umumnya tanaman ini mudah berregenerasi.
4. Ukuran eksplan yang digunakan.
Ukuran sangat berpengaruh terhadap kultur jaringan karena eksplan yang berukuran besar beresiko terkontaminasi lebih tinggi dibanding yang lebih kecil tetapi kemampuan hidupnya lebih besar dan tumbuhnya cepat dan sebaliknya . Selain itu ketika akan melakukan kultur jaringan ini diusahakan untuk seragam. Apabila kuncup bunga yang dipakai maka semua harus kuncup yang sama.
5. Keterbatasan eksplan
Jika eksplan yang dipakai / digunakan jumlahnya terbatas dan terserang bakteri maka eksplan harus ditumbuhkan terlebih dahulu kemudian puncuknya dipotong dengan hati-hati sebagai eksplan baru. Jika kiltur masih terkontaminasi maka ditumbuhkan lagi sampai tidak terkontaminasi .
2. APA ALAT DAN BAHAN STERILISASI.
Dalam kultur jaringan tentunya kita akan membutuhkan alat dan bahan untuk sterilisasi eksplan. Adapun alat dan bahannya sebagai berikut:
1. Autoklaf
Ini merupakan sterilisasi dengan pemanasan dengan cara: autoklaf diisi dengan air sampai batas “sang-sang”. Kemudian botol-botol eksplan yang berisi medium dimasukkan ke dalamnya. Setelah autoklaf ditutup rapat, kemudian dinyalakan (ada yang model listrik, tetapi ada pula yang dipanaskan dengan kompor gas). Setelah autoklaf dinyalakan, kemudian ditunggu sampai air di dalamnya menunjukkan angka 15, mulai dihitung waktunya sampai 15 menit, kemudian autoklaf dimatikan dan ditunggu dahulu sampai agak dingin. Setelah tekanan menunjukkan angka nol, autoklaf tersebut boleh dibuka dan botol-botol di dalamnya dikeluarkan untuk disimpan sampai saat digunakan. Autoklaf ini digunakan untuk ensterilkan alat-alat kultur jaringan.
2. Ruang inkubator
Ruang ini berfungsi sebagai ruang steril yang didalamnya terdapat sinar UV.
3. Lampu spirtus
Lampu spirus ini digunakan dalam pemanasan atau pembakaran (pada sterilisasi eskplan secara mekanik, biasanya digunakan membakar eksplan yang keras atau berdaging).
Bahan yang digunakan dalam sterilisasi eksplan
Eksplan merupakan sumber kontaminasi kultur, di samping komponen media, faktor manusia, dan lingkungan. Karena itu, sebelum ditanam secara aseptik dalam media yang steril, eksplan harus dibersihkan dari kotoran terluar dan sterilisasi. Sterilisasi eksplan hanya sebatas sterilisasi permukaan atau disinfeksi (menghilangkan infestasi kontamin), bukan disinfeksi (menghilangkan infeksi kontamin dalam eksplan).
Sterilisasi eksplan dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan dua cara yaitu secara mekanik dan secara kimia.
a. Sterilisasi eksplan secara mekanis.
Cara ini digunakan untuk eksaplan yang keras atau berdaging, yaitu dengan membakar eksplan tersebut diatas lampu spirtus sebanyak tiga kali. Eksplan keras yang disterilkan dengan cara ini adalah tebu, biki salak, bung, buah anggrek, akapulaga dan sebagainya.
b. Sterilisasi eksplan dengan cara kimiawi.
Sterilisasi secara kimiawi digunakan untuk eksplan yang lunak seperti daun, tangkai daun, dan sebagainya.
Bahan kimia yang sering dipakai untuk disinfestasi adalah alkohol seperti etil, metil, atau isopropyl-alkohol dengan konsentrasi 70-80%, Ca-hipoklorit atau Na- hipoklorit . Atau bisa dilihat pada tabel di bawah ini.
Macam-macam bahan untuk sterilisasi dan fungsinya:
No. Nama bahan sterilisasi Fungsinya
1. deterjen Membershkan kotora/debu dari eksplan
2. fungisida Memberihkan jamur/cendawan
3. bakterisida Membersihkan bakteri
4. alkohol 70% dan 95% Desinfektan
5. sodium hipoklorik dengan nama dagang clorox atau bayclin Desinfektan
6. mercury chlorit dengan nama dagang sublima 0,05 % Desinfektan
7. tween -20 Agen pembasah
8. antibiotik Desinfektan
9. iodine/betadine Antiseptik
Satu hal yang penting dalam sterilisasi permukaan eksplan adalah mengkompromikan antara usaha untuk mendapatkan eksplan yang steril dan menjaga agar jaringan eksplan tidak rusak akibat tingginya konsentrasi disinfektan.
Untuk meminimalkan tingkat kontaminasi dan mendapatkan pertumbuhan eksplan yang cepat, beberapa perlakuan (threatment) terhadap tanaman induk sumber eksplan dapat diterapkan sebagai berikut:
1. Pemeliharaan tanaman induk di rumah kaca dengan pengendalian hama dan penyakit tanaman secra intensif.
2. Pemangkasan tanaman induk diikuti pemupukan yang seimbang. Flush atau trubusan baru yang tumbuh setelah pemangkasan digunakan sebagai eksplan. Flush yang tumbuh tersebut sebaiknya disemrot dengan fungisida sistemik ( Benlate) dan bakterisida ( Agrept) agar tumbuhnya lebih sehat.
3. Perlakuan tanaman induk dengan temperatur yang tertentu seperti suhu rendah (4oC) atau suhu tinggi (35oC).
4. Perlakuan tanaman induk dengan ZPT seperti sitokonin atau giberelin. Sitokonin untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas aksilar, sedangkan giberelin untuk merangsang pemanjangan tunas.
Pemeliharaan tanaman induk dalam keadaan yang lebih higienis yaitu dengan menumbuhkannya di dalam rumah kaca dengan pengendalian hama dan penyakit tanaman yang intensif membuktikan dapat mengurangi tingkat kontaminasi eksplan yang diambil dari tanaman tersebut, terutama yang disebabkan oleh cendawan. Namun, cara ini sulit diterapkan untuk kontaminasi yang disebabkan oleh mikroorganisme endofilik, terutama bakteri.
Kontaminasi yang disebabkan oleh mikroorganisme endofilik (organisme yang hidup di dalam sel atau ruang antar sel tanaman) yang sering merupakan biote dari tanaman sumber eksplan, sulit diatasi denga sterilisasi permukaan. Keadaan ini disebabkan oleh koloni baktri sering tidak muncul pada saat eksplan baru dikulturkan pertama kali, tetapi beberapa minggu kemudian muncul koloni bakteri. Bakteri tersebut tetap ada setelah disubkulturkan berkali-kali, karena hidupnya memang secara epifit di dalam jaringan tanaman.
D. KESIMPULAN
Dari penjabaran diatas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan
Cara memilih eksplan.
Umur tanaman yang digunakan (umur fisiologis) jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Jaringan tanaman yang masih muda mempunyai daya regenerasi lebih tinggi, sel-selnya masih aktif membelah diri, dan relative lebih bersih (mengandung lebih sedikit kontamin).
Ukuran eksplan ukuran sangat berpengaruh terhadap kultur jaringan karena eksplan yang berukuran besar beresiko terkontaminasi lebih tinggi dibanding yang lebih kecil tetapi kemampuan hidupnya lebih besar dan tumbuhnya cepat dan sebaliknya
Bagian tanaman yang digunakan yang digunakan biji atau bagian-bagian biji seperti aksis embrio atau kotiledon, tunas puncuk, potongan batang suatu buku, potongan akar, potongan daun, potongan umbi batang, umbi akar, empulur batang, bagian bunga
Umur ontogenik adalah masa transisi dari vase pertumbuhan juvenile menuju vase dewasa. Fase juvenil adalah periode pembungaan tiak terjadi dan tidak dapat berlangsung dengan perlakuan yang biasa diambil dari digunakan untuk merangsang pembungaan.
Keterbatasan eksplan Jika eksplan yang dipakai / digunakan jumlahnya terbatas dan terserang bakteri maka eksplan harus ditumbuhkan terlebih dahulu kemudian puncuknya dipotong dengan hati-hati sebagai eksplan baru. Jika kiltur masih terkontaminasi maka ditumbuhkan lagi sampai tidak terkontaminasi
Alat dan bahan sterilisasi
1. Autoklaf
2. Ruang inkubator
3. Lampu spirtus
Macam- macam bahan sterilisasi
No. Nama bahan sterilisasi Fungsinya
1. deterjen Membershkan kotora/debu dari eksplan
2. fungisida Memberihkan jamur/cendawan
3. bakterisida Membersihkan bakteri
4. alkohol 70% dan 95% Desinfektan
5. sodium hipoklorik dengan nama dagang clorox atau bayclin Desinfektan
6. mercury chlorit dengan nama dagang sublima 0,05 % Desinfektan
7. tween -20 Agen pembasah
8. antibiotik Desinfektan
9. iodine/betadine Antiseptik
DAFTAR PUSTAKA
MSC, Ir. Yusnita Kultur jaringan cara memperbanyak tanaman secara efisien. PT agromedia pustaka. Tanggerang, 2004
Lianah, M.Pd. buku ajar pengantar bioteknologi. Semarang. 2008
HTTP://7ulyt4.WORDPRESS.COM/PENYIAPAN-EKSPLAN-KULTUR-JARINGAN/ 01.30pm 20/3/2010
P Sriyanti hendrayono, dkk, Ir daisy. Teknik kultur jaringan. Kanisius. Yogyakarta. 1994
A. PENDAHULUAN
Kultur jaringan (tissue culture)merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ serta menumbuhkannya dalam keadaan aseptik sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali.
Sebelum melakukan kulur jaringan untuk suatu tanaman kegiatan yang pertama harus dilakukan adalah memilih bahan induk yang akan diperbanyak. Tanaman tersebut harus jelas jenis, spesies, dan varietasnya serta harus sehat, bebas dari hama dan penyakit. Tanaman indukan sumber eksplan tersebut kemudian dikondisikan dan dipersiapkan secara khusus agar eksplan yang akan dikulturkan sehat dan dapat tumbuh baik serta bebas dari sumber kontaminan pada waktu dikulturkan secara invitro.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana cara memilih eksplan?
2. Macam macam dan cara sterilisasi eksplan!
C. PEMBAHASAN
1. CARA MEMILIH EKSPLAN
Bahan tanaman yang dikulturkan lazim disebut sebagai eksplan. Dalam perbanyakan tanaman secara kultur jaringan, eksplan merupakan faktor terpenting penentu keberhasilan. Karena dengan memilih tanaman yang tepat dan jaringan-jaringan yang tepat maka kultur jaringan akan mempercepat tumbuhnya tunas-tunas dan individu baru yang identik dengan induknya.
Eksplan yang akan ditanam selain bertujuan memperbanyak massa tanaman, yang biasanya lambat, dengan metode konvensional. Dalam jumlah yang besar dalam waktu yang singkat, selain itu diperoleh tanaman yang bebas virus. Dalam perbanyakan tanaman secara kultur jaringan, ada beberapa faktor penting penentu keberhasilan. Yaitu Umur fisiologis (umur tanaman yang akan digunakan), umur ontogenetic, ukuran eksplan, serta bagian tanaman yang diambil merupakan hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih eksplan yang akan digunakan sebagai awal bahan kultur.
1. Umur tanaman yang digunakan (umur fisiologis).
Umumnya, bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Jaringan tanaman yang masih muda mempunyai daya regenerasi lebih tinggi, sel-selnya masih aktif membelah diri, dan relative lebih bersih (mengandung lebih sedikit kontamin). Sementara itu jaringan tanaman yang sudah tua lebih sulit beregenerasi, dan biasanya mengandung lebih banyak kontamin.
2. Bagian tanaman yang digunakan.
Bagian-bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai eksplan yaitu biji atau bagian-bagian biji seperti aksis embrio atau kotiledon, tunas puncuk, potongan batang suatu buku, potongan akar, potongan daun, potongan umbi batang, umbi akar, empulur batang, bagian bunga. Contoh pada tanaman jat yang diambil adalah trubusan tunas yang baru tumbuh, sedangkan pada pisang adalah bagian bonggol.
3. Umur ontogenik
Merupakan umur ontogenik tanaman induk sumber eksplan. Umur ontogenik adalah masa transisi dari vase pertumbuhan juvenile menuju vase dewasa. Fase juvenil adalah periode pembungaan tiak terjadi dan tidak dapat berlangsung dengan perlakuan yang biasa diambil dari digunakan untuk merangsang pembungaan. Umumnya tanaman ini mudah berregenerasi.
4. Ukuran eksplan yang digunakan.
Ukuran sangat berpengaruh terhadap kultur jaringan karena eksplan yang berukuran besar beresiko terkontaminasi lebih tinggi dibanding yang lebih kecil tetapi kemampuan hidupnya lebih besar dan tumbuhnya cepat dan sebaliknya . Selain itu ketika akan melakukan kultur jaringan ini diusahakan untuk seragam. Apabila kuncup bunga yang dipakai maka semua harus kuncup yang sama.
5. Keterbatasan eksplan
Jika eksplan yang dipakai / digunakan jumlahnya terbatas dan terserang bakteri maka eksplan harus ditumbuhkan terlebih dahulu kemudian puncuknya dipotong dengan hati-hati sebagai eksplan baru. Jika kiltur masih terkontaminasi maka ditumbuhkan lagi sampai tidak terkontaminasi .
2. APA ALAT DAN BAHAN STERILISASI.
Dalam kultur jaringan tentunya kita akan membutuhkan alat dan bahan untuk sterilisasi eksplan. Adapun alat dan bahannya sebagai berikut:
1. Autoklaf
Ini merupakan sterilisasi dengan pemanasan dengan cara: autoklaf diisi dengan air sampai batas “sang-sang”. Kemudian botol-botol eksplan yang berisi medium dimasukkan ke dalamnya. Setelah autoklaf ditutup rapat, kemudian dinyalakan (ada yang model listrik, tetapi ada pula yang dipanaskan dengan kompor gas). Setelah autoklaf dinyalakan, kemudian ditunggu sampai air di dalamnya menunjukkan angka 15, mulai dihitung waktunya sampai 15 menit, kemudian autoklaf dimatikan dan ditunggu dahulu sampai agak dingin. Setelah tekanan menunjukkan angka nol, autoklaf tersebut boleh dibuka dan botol-botol di dalamnya dikeluarkan untuk disimpan sampai saat digunakan. Autoklaf ini digunakan untuk ensterilkan alat-alat kultur jaringan.
2. Ruang inkubator
Ruang ini berfungsi sebagai ruang steril yang didalamnya terdapat sinar UV.
3. Lampu spirtus
Lampu spirus ini digunakan dalam pemanasan atau pembakaran (pada sterilisasi eskplan secara mekanik, biasanya digunakan membakar eksplan yang keras atau berdaging).
Bahan yang digunakan dalam sterilisasi eksplan
Eksplan merupakan sumber kontaminasi kultur, di samping komponen media, faktor manusia, dan lingkungan. Karena itu, sebelum ditanam secara aseptik dalam media yang steril, eksplan harus dibersihkan dari kotoran terluar dan sterilisasi. Sterilisasi eksplan hanya sebatas sterilisasi permukaan atau disinfeksi (menghilangkan infestasi kontamin), bukan disinfeksi (menghilangkan infeksi kontamin dalam eksplan).
Sterilisasi eksplan dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan dua cara yaitu secara mekanik dan secara kimia.
a. Sterilisasi eksplan secara mekanis.
Cara ini digunakan untuk eksaplan yang keras atau berdaging, yaitu dengan membakar eksplan tersebut diatas lampu spirtus sebanyak tiga kali. Eksplan keras yang disterilkan dengan cara ini adalah tebu, biki salak, bung, buah anggrek, akapulaga dan sebagainya.
b. Sterilisasi eksplan dengan cara kimiawi.
Sterilisasi secara kimiawi digunakan untuk eksplan yang lunak seperti daun, tangkai daun, dan sebagainya.
Bahan kimia yang sering dipakai untuk disinfestasi adalah alkohol seperti etil, metil, atau isopropyl-alkohol dengan konsentrasi 70-80%, Ca-hipoklorit atau Na- hipoklorit . Atau bisa dilihat pada tabel di bawah ini.
Macam-macam bahan untuk sterilisasi dan fungsinya:
No. Nama bahan sterilisasi Fungsinya
1. deterjen Membershkan kotora/debu dari eksplan
2. fungisida Memberihkan jamur/cendawan
3. bakterisida Membersihkan bakteri
4. alkohol 70% dan 95% Desinfektan
5. sodium hipoklorik dengan nama dagang clorox atau bayclin Desinfektan
6. mercury chlorit dengan nama dagang sublima 0,05 % Desinfektan
7. tween -20 Agen pembasah
8. antibiotik Desinfektan
9. iodine/betadine Antiseptik
Satu hal yang penting dalam sterilisasi permukaan eksplan adalah mengkompromikan antara usaha untuk mendapatkan eksplan yang steril dan menjaga agar jaringan eksplan tidak rusak akibat tingginya konsentrasi disinfektan.
Untuk meminimalkan tingkat kontaminasi dan mendapatkan pertumbuhan eksplan yang cepat, beberapa perlakuan (threatment) terhadap tanaman induk sumber eksplan dapat diterapkan sebagai berikut:
1. Pemeliharaan tanaman induk di rumah kaca dengan pengendalian hama dan penyakit tanaman secra intensif.
2. Pemangkasan tanaman induk diikuti pemupukan yang seimbang. Flush atau trubusan baru yang tumbuh setelah pemangkasan digunakan sebagai eksplan. Flush yang tumbuh tersebut sebaiknya disemrot dengan fungisida sistemik ( Benlate) dan bakterisida ( Agrept) agar tumbuhnya lebih sehat.
3. Perlakuan tanaman induk dengan temperatur yang tertentu seperti suhu rendah (4oC) atau suhu tinggi (35oC).
4. Perlakuan tanaman induk dengan ZPT seperti sitokonin atau giberelin. Sitokonin untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas aksilar, sedangkan giberelin untuk merangsang pemanjangan tunas.
Pemeliharaan tanaman induk dalam keadaan yang lebih higienis yaitu dengan menumbuhkannya di dalam rumah kaca dengan pengendalian hama dan penyakit tanaman yang intensif membuktikan dapat mengurangi tingkat kontaminasi eksplan yang diambil dari tanaman tersebut, terutama yang disebabkan oleh cendawan. Namun, cara ini sulit diterapkan untuk kontaminasi yang disebabkan oleh mikroorganisme endofilik, terutama bakteri.
Kontaminasi yang disebabkan oleh mikroorganisme endofilik (organisme yang hidup di dalam sel atau ruang antar sel tanaman) yang sering merupakan biote dari tanaman sumber eksplan, sulit diatasi denga sterilisasi permukaan. Keadaan ini disebabkan oleh koloni baktri sering tidak muncul pada saat eksplan baru dikulturkan pertama kali, tetapi beberapa minggu kemudian muncul koloni bakteri. Bakteri tersebut tetap ada setelah disubkulturkan berkali-kali, karena hidupnya memang secara epifit di dalam jaringan tanaman.
D. KESIMPULAN
Dari penjabaran diatas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan
Cara memilih eksplan.
Umur tanaman yang digunakan (umur fisiologis) jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Jaringan tanaman yang masih muda mempunyai daya regenerasi lebih tinggi, sel-selnya masih aktif membelah diri, dan relative lebih bersih (mengandung lebih sedikit kontamin).
Ukuran eksplan ukuran sangat berpengaruh terhadap kultur jaringan karena eksplan yang berukuran besar beresiko terkontaminasi lebih tinggi dibanding yang lebih kecil tetapi kemampuan hidupnya lebih besar dan tumbuhnya cepat dan sebaliknya
Bagian tanaman yang digunakan yang digunakan biji atau bagian-bagian biji seperti aksis embrio atau kotiledon, tunas puncuk, potongan batang suatu buku, potongan akar, potongan daun, potongan umbi batang, umbi akar, empulur batang, bagian bunga
Umur ontogenik adalah masa transisi dari vase pertumbuhan juvenile menuju vase dewasa. Fase juvenil adalah periode pembungaan tiak terjadi dan tidak dapat berlangsung dengan perlakuan yang biasa diambil dari digunakan untuk merangsang pembungaan.
Keterbatasan eksplan Jika eksplan yang dipakai / digunakan jumlahnya terbatas dan terserang bakteri maka eksplan harus ditumbuhkan terlebih dahulu kemudian puncuknya dipotong dengan hati-hati sebagai eksplan baru. Jika kiltur masih terkontaminasi maka ditumbuhkan lagi sampai tidak terkontaminasi
Alat dan bahan sterilisasi
1. Autoklaf
2. Ruang inkubator
3. Lampu spirtus
Macam- macam bahan sterilisasi
No. Nama bahan sterilisasi Fungsinya
1. deterjen Membershkan kotora/debu dari eksplan
2. fungisida Memberihkan jamur/cendawan
3. bakterisida Membersihkan bakteri
4. alkohol 70% dan 95% Desinfektan
5. sodium hipoklorik dengan nama dagang clorox atau bayclin Desinfektan
6. mercury chlorit dengan nama dagang sublima 0,05 % Desinfektan
7. tween -20 Agen pembasah
8. antibiotik Desinfektan
9. iodine/betadine Antiseptik
DAFTAR PUSTAKA
MSC, Ir. Yusnita Kultur jaringan cara memperbanyak tanaman secara efisien. PT agromedia pustaka. Tanggerang, 2004
Lianah, M.Pd. buku ajar pengantar bioteknologi. Semarang. 2008
HTTP://7ulyt4.WORDPRESS.COM/PENYIAPAN-EKSPLAN-KULTUR-JARINGAN/ 01.30pm 20/3/2010
P Sriyanti hendrayono, dkk, Ir daisy. Teknik kultur jaringan. Kanisius. Yogyakarta. 1994
Kamis, 01 April 2010
Langganan:
Postingan (Atom)



